Wednesday, March 2, 2022

Sharing pengalaman menyekolahkan anak ke pesantren

 

Pondok Pesantren Husnul Khotimah (Instagram)

Sejak memasukkan kk fathya dan kk hana ke pesantren, banyak teman dan saudara yang sering bertanya-tanya kok bisa? Kok anaknya mau? Bagaimana mencari pesantren yang bagus dan lain-lain. Ada juga yang bertanya atau lebih tepatnya mengejudge kok tega sih menitipkan anak di asrama? Ahaha kalau pertanyaan yang seperti itu cukup kami senyumin ajah.

Berawal dari tahun 2016 saat kk fathya sudah kelas 5 SD, sudah mulai merencanakan nanti kalau lulus mau masuk SMP dimana, cari dimana, bagaimana untuk masuknya dan sebagainya. Karena memang waktu itu untuk pendaftaran masuk SMP kami belum update lagi bagaimana caranya, yang kami tahu yaa model kami dahulu. Lulus SD mendapat nilai NEM dan masuk pendaftaran SMP dengan menggunakan nilai tersebut. Namun ternyata ada sistem zonasi dan sebagainya kami juga kurang paham jadi harus mulai mencari info.

Saat kk hana mengikuti ujian masuk Asy Syifa

Saat pertama kali ditanya kk fathya mau melanjutkan SMP dimana? Dia menjawab ingin masuk pesantren. Ohh mungkin dia hanya keinginan saat itu atau karena mengikuti teman-temannya. Ayahnya sudah merekomendasikan untuk nanti melanjutkan SMP negeri yang lokasinya hanya seratusan meter dari rumah dan merupakan salah satu SMP terfavorit di kota kami. Namun makin hari keinginan kk untuk masuk pesantren makin kuat, akhirnya kami harus mulai mendukungnya.

Langkah-langkah kami waktu itu adalah :

1.      Memastikan kembali keinginan anak untuk melanjutkan sekolah dimana, apakah benar-benar mau masuk sekolah pesantren dengan sistem boarding.

2.      Mencari-cari informasi pesantren apa saja yang direkomendasikan. Setelah mendapatkan beberapa nama, kami mulai mencari-cari informasi di web dan pengalaman orangtua yang anaknya sudah sekolah disana.

Suasana di HK saat anak berangkat ke sekolah (Instagram)


3.      Melakukan survei langsung ke lokasi pesantren bersama anak, sehingga anak bisa mendapatkan gambaran lebih jelas. Beberapa pesantren yang sempat kami datangi adalah:

a.      Nurul fikri Serang

b.      Darul Quran Mulia Parung Bogor

c.       Insan Cendekia Madani Pamulang

d.      Jagat Arsy BSD

e.      Al Binaa Karawang

f.        Asy Syifa Subang

g.      Nurul Fikri Lembang

h.      Husnul Khotimah Kuningan

Selain melihat langsung bagaimana kondisi di lapangan, kami juga biasanya sempat bertanya-tanya dengan pihak sekolah mengenai kegiatan sehari-hari, kurikulum, target hafalan, waktu pendaftaran, penjengukan serta biaya-biaya pendaftaran dan bulanan. Biasanya sekolah sudah menyediakan leaflet pendaftaran murid baru dengan informasi yang cukup lengkap.

4.      Untuk kembali memastikan bakat dan minat anak, kami memanggil psikolog untuk melakukan tes psikologi pada anak. Karena biaya konsultasi untuk mendatangkan psikolog ke rumah cukup besar, maka saat itu kami patungan dengan beberapa orangtua lain sehingga biaya lebih terjangkau. Dengan psikotes kami bisa mendapatkan gambaran keputusan anak mengambil sekolah pesantren sudah tepat.

Saat kk Fathya ikut ujian masuk HK

5.      Dari hasil survei kami sudah mendapatkan jadwal kapan harus mulai melakukan pendaftaran untuk mengikuti ujian masuk, jadi harus mulai aware kapan harus mendaftar. Dari beberapa tempat yang dikunjungi kk fathya lebih memilih untuk masuk asy syifa subang. Akhirnya pada Oktober 2016 kami sudah mulai melakukan pendaftaran untuk mulai masuk bulan juli 2017. Pendaftaran dilakukan secara online, kemudian melakukan pembayaran dan mencetak kartu ujian secara mandiri. Biasanya pesantren yang favorit akan mulai pendaftaran lebih awal dan mulai dilakukan tes masuk pada Desember.

6.      Saat tes masuk asy syifa Subang, kami langsung mendatangi ke lokasi. Tes masuk meliputi tes tulis untuk beberapa pelajaran dan tes hafalan Al-Qur’an. Setelah lulus akan dilanjutkan dengan tes wawancara langsung kepada anak serta kepada orangtua secara terpisah.

Saat kk hana tes masuk HK

7.      Selain mendaftar di asy syifa, kk juga mendaftar Husnul Khotimah (HK) Kuningan. Pendaftaran juga dilakukan secara online, dan kami bisa memilih untuk mengikuti ujian dari kota mana karena mereka pada tanggal yang sama melakukan ujian di beberapa kota secara serentak baik di Indonesia maupun di luar negeri. Untuk  tes pesantren ini kk mengikuti ujian di Rawamangun.

Salah satu asrama di HK

8.      Saat pengumuman ternyata kk tidak diterima di asy syifa dan alhamdulillah diterima di HK. Jadi memang saat mendaftar ke sekolah favorit perlu juga untuk mencari cadangan karena untuk masuk pesantren favorit cukup sulit persaingan masuknya.

9.      Namun bukan berarti untuk masuk Asy syifa lebih susah daripada Hk karena pada tahun berikutnya berlaku sebaliknya. Saat kk hana mau masuk pesantren, dia tidak lulus di HK namun diterima di Asy syifa, memang rejeki anak masing-masing yaa J


10.  Saat mulai waktu masuk pesantren tiba, pastikan semua informasi dari sekolah dibaca dan diikuti dengan baik sehingga semua keperluan anak sudah terpenuhi. Kami harus menjaga perasaan anak yang akan mulai tinggal di asrama dengan hal-hal yang menyenangkan dan mudah. Alhamdulillah waktu itu kami mengantar kk fathya dengan lancar tanpa ada drama, bahkan kami sempat mengambil cuti dari kantor untuk tinggal di sekitar asrama selama beberapa hari ternyata kk sudah langsung bisa beradaptasi.

Hal ini juga sedikit berbeda dengan kk hana yang pada saat awal masuk pesantren agak susah sehingga kami harus ekstra sabar dan seminggu sekali kesana untuk menengok. Tiap anak beda-beda dalam hal adaptasi dengan lingkungan baru dan kemandirian.

kk fathya saat ikut acara disekolah (instagram)

1.      Saat anak sudah mulai masuk pesantren, dari awal masuk sebagai wali santri harus mengikuti informasi dari sekolah maupun dari asrama, terus menjaga komunikasi dengan wali kelas dan wali asrama, sehingga tidak ketinggalan jika ada informasi penting. 

Itulah sedikit pengalaman kami waktu memasukkan anak ke pesantren, semoga ada manfaat untuk yang sedang mencarikan sekolah boarding untuk anaknya.

Tulisan ini untuk memenuhi tantangan Nulis Kompakan Mamah Gajah Ngeblog.

Terima kasih sudah membaca 🙏

14 comments:

  1. Unik Teh pengalamannya,,, terima kasih sudah berbagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi sekarang anak-anak Teteh masuk pesantren yang boarding school semua? Kalau rumahnya dekat apakah wajib boarding juga ya, hehe

      Delete
  2. Makasih teh sharingnya. Semoga anak2 lancar ya dengan pendidikan mereka 🙏

    ReplyDelete
  3. Terima kasih banyak sudah berbagi, teh Shofa. Saya jadi tahu keberadaan daftar sekolah pesantren yang favorit. Husnul Khotimah, Asy Syifa, Nurul Fikri, ICM, Jagat Arsy.

    Beberapa teman anak saya juga ada yang sudah mendaftar ke sekolah pesantren tertentu untuk SMP-nya.

    Semoga kakak Hana dan kakak Fathya sehat walafiat selalu, serta semangat belajar dan berkarya di sekolah pesantren yang dipilihnya.
    Pokoknya semoga makin sukses ya kak Hana dan kak Fathya. :)

    Pendapat orang pasti bermacam-macam ya teh Shofa. Setuju sekali, Teh, disenyumin saja ya ehehe.
    Setiap orangtua memiliki cara tersendiri untuk memberikan yang terbaik buat putra-putrinya. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin nuhun teteh, setiap anak berhak mendapatkan pendidikan terbaik yang cocok untuk mereka ya. ortu hanya memfasilitasi dan mengarahkan, semua pendidikan pasti bertujuan baik :)

      Delete
  4. Karena anak-anak saya bahkan belum masuk SD, rasanya jauh sekali memikirkan SMP mereka nanti. Tapi dengan baca tulisan Teteh, saya jadi punya gambaran perjalanan seandainya mereka juga masuk pesantren. Sebagai orang tua juga harus siap pisah dengan anak-anak ya. Terima kasih sudah berbagi, Teh 🤍.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah masih kecil2 yaa anaknya, kebayang umur2 balita rempongnya urus anak. memang rasanya cepat sekali membersamai anak2, mereka cepet banget gedenya :))

      Delete
  5. waah anaknya udah besar2 ternyata, anakku masih krucil, belum ada tanda-tanda pengen boarding school, hehehe..

    kalau persiapan dari ortu gimana nih melepas anak boarding school?

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah bener juga ya ortu juga harus banyak persiapan.
      siap2 mental pisah dengan anak
      siap materi karena tentu biaya sekolah boarding selain spp juga mencakup biaya catering, laundry dll
      siap waktu karena jarak lumayan jauh jadi untuk jenguk harus spare waktu perjalanan
      siap tenaga dan pikiran udah pasti saat anak semakin besar hal yang harus dipikirkan juga bertambah

      makasih kk nti di update di tulisan :)

      Delete
  6. MasyaAllah anak-anaknya sudah pada besar-besar teh. ah jadi nano nano nih mikirin nanti anak udah besar bakalan harus belajar jauh dari kita orang tua nya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe iya teteh udh pada SMA sekarang, iya klo anak mau boarding ortu harus siap2 juga :)

      Delete
  7. Masya Allah teh.. semoga kaka Fathya dan kaka Hana lancar2 ya sekolah di pesantrennyaa.. jadi penasaran gimana cara teteh dan keluarga/suami buat persiapan hati, krn pasti ada berat juga kan ngelepas anak yg masih abg jauh dari ortu.. hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin nuhun teteh,insyaAllah semua dimudahkan. rasanya dulu saya juga ga kebayang jauh dari anak2 :)

      Delete

Sharing pengalaman menyekolahkan anak ke pesantren

  Pondok Pesantren Husnul Khotimah (Instagram) Sejak memasukkan kk fathya dan kk hana ke pesantren, banyak teman dan saudara yang sering ber...